Sepenggal Cerita
Namanya Naura Mia Nisfiana, bisa dipanggil nisfi, nia, ataupun mia, tapi lebih kerap dipanggil mia sih,,hehe. Gadis yang tidak asing ini pasti semua orang di desanya kenal. Bukan kembang desa ataupun karna kecantikannya melainkan karna sifatnya yang selalu ramah sama orang meski ngga terlalu kenal kerap ia sapa entah siapapun dan dari penjuru dunia manapun,hehe. Mia juga tidak terlalu pandai dalam hal agama dia hanya sdikit paham saja mungkin karna dari kecil sudah diajarkan ya dari keluarga terdekatnya, maka dari itu rasanya mustahil bagi seorang mia mencintai ataupun dicintai seorang ustadnya yang jelas pangkatnya jauh lebih tinggi darinya. Suatu ketika mia udahan ngga belajar di penjara suci itu lagi, memang jalannya sudah Allah rangkai dengan indah untuknya. Saat masih hidup di pondoknya mia mempuntai teman yang bernama laila, dia wanita baik, penyabar dan juga ngga kalah cantiknya sama mia loh,hehe. Entah tiba-tiba laila cerita sama mia kalo dulu waktu di rumah dia punya kenalan seorang ustad ya ganteng eh manis katanya sih mia sendiri juga belum pernah ketemu. dia cerita kalo ustadnya itu sempurna banget tapi satu yang bikin cerita ini makin haru, namanya Ustad Faruq yang dikenal dengan kemashurannya tetapi menyimpan berbagai rahasia dalam dirinya. Dia bukan hanya seorang ustad yang biasa mengajar ngaji santrinya tetapi dia juga seorang peruqyah, tapi disela ksempurnaanya itu ada sebuah rahasia yang tidak banyak orang ketahui apa itu? Dia telah menderita sakit yang amat serius, dia juga seorang penulis kaligrafi yang bagus meskipun tangan kanannya cacat, tetapi beliau juga mengidap penyakit kanker otak.
Suatu hari, ada sebuah masalah dalam diri mia entah kenapa mia tak sadarkan diri sampai orang tuanya dipanggil untuk menjemputnya ke pondok. Sampai di rumah diapun sembuh tapi setelah melihat keadaan mia setelah kejadian itu sangat memprihatinkan dari pihak keluarganya merasa iba terhadap anaknya sendiri. Akhirnya setelah khaflah akhirissan di pondoknya tepatnya di sudagaran sidareja diapun mukim dari pondoknya itu, setelah mukin dari pondok tersebut diapun hanya mengaji di musolah dekat rumahnya dan mengajar anak-anak kecil ngaji bersama.
Suatu hari, ada sebuah masalah dalam diri mia entah kenapa mia tak sadarkan diri sampai orang tuanya dipanggil untuk menjemputnya ke pondok. Sampai di rumah diapun sembuh tapi setelah melihat keadaan mia setelah kejadian itu sangat memprihatinkan dari pihak keluarganya merasa iba terhadap anaknya sendiri. Akhirnya setelah khaflah akhirissan di pondoknya tepatnya di sudagaran sidareja diapun mukim dari pondoknya itu, setelah mukin dari pondok tersebut diapun hanya mengaji di musolah dekat rumahnya dan mengajar anak-anak kecil ngaji bersama.
Komentar
Posting Komentar